Jumat, 01 Juli 2016

SHOLAT IED







Hukum Shalat ‘Ied
·         Sebagian ulama mengatakan bahwa sholat ied hukumnya wajib ‘ain,
·         Sunnah muakkad sebagaimana yang dikatakan oleh Annawawi ketika mensyarh hadits riwayat Muslim yang menyebutkan seseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menanyakan hal-hal yang diwajibkan, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab ‘Lima sholat dalam sehari semalam’ kemudian orang itu berkata ‘apakah bagiku selainnya?’ maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab ‘tidak, kecuali engkau mau menambah (dengan nafilah)’

Waktu Pelaksanaan Shalat ‘Ied
Waktu sholat Ied dimulai setelah matahari mulai meninggi (artinya setelah lewat waktu dilarangnya sholat) dan berakhir dengan tergelincirnya matahari (waktu zawal : matahari di atas hingga tidak terlihat bayangan)

Tempat Pelaksanaan Shalat ‘Ied
Tempat pelaksanaan shalat ‘ied lebih utama (lebih afdhol) dilakukan di tanah lapang, kecuali jika ada udzur
“Hadits Abu Sa’id Al Khudri di atas adalah dalil bagi orang yang menganjurkan bahwa shalat ‘ied sebaiknya dilakukan di tanah lapang dan ini lebih afdhol (lebih utama) daripada melakukannya di masjid

APAKAH ADA SHALAT SUNNAH SEBELUM DAN SESUDAH ‘ID?
·         Tidak disunnahkan shalat sunnah sebelum dan sesudah ‘Id. Disebutkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma:

"Sesungguhnya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat ‘Idul Fithri dua raka’at, tidak shalat sebelumnya atau sesudahnya" [HR Al Bukhari].
Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: "Kesimpulannya, pada shalat ‘Id tidak ada shalat sunnah sebelum atau sesudahnya, berbeda dari orang yang mengqiyaskan dengan shalat Jum’ah. Namun, shalat sunnah muthlaqah tidak ada dalil khusus yang melarangnya, kecuali jika dikerjakan pada waktu yang makruh seperti pada hari yang lain". [Fath-hul Bari, 2/476].

Apabila shalat ‘Id dikerjakan di masjid karena adanya udzur, maka diperintahkan shalat dua raka’at tahiyyatul masjid. Wallahu a’lam. (Jika di lapangan maka tidak ada tahiyyatul lapangan/aula/mushola)
·         Melantunkan takbir  lebih di sunahkan, dimulai sejak terbenamnya matahari hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha, dan berakhir ketika imam memulai shalat ‘id.

Kesunahan di Hari Raya
1.       Melantunkan takbir (Disyari’atkan dilakukan oleh setiap orang dengan menjahrkan (mengeraskan) bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab)
2.       Mandi dengan niat untuk melaksanakan shalat hari raya:
3.       Berangkat pagi-pagi, kecuali bagi imam disunahkan berangkat ketika shalat hendak dilaksanakan.
4.       Berhias diri dengan memakai parfum, pakaian yang bagus, memotong kuku, serta menghilangkan bau yang tidak sedap.
5.       Menempuh jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.
6.       Makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat ‘Idul Fitri, sedangkan pada ‘Idul Adha, sunah melakukan shalat terlebih dahulu.
7.       Tahniah (ungkapan suka cita) atas datangnya hari raya disertai dengan berjabat tangan
8.       Menjawab ucapan suka cita (tahni’ah)
9.       Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat.

Wassalam

Senin, 27 Juni 2016

MENGHADAPI BABAK FINAL

MENGHADAPI BABAK FINAL
By: Ustdz Irsyad Syafar

Bila ramadhan sudah selesai 18 hari, maka kita segera memasuki malam ke 19. Itu artinya kita sudah berada di gerbang 10 hari terakhir. Apalagi bila diperkirakan ramadhan tahun ini hanya akan berumur 29 hari. Maka malam ke 20 adalah salah satu dari 10 malam terakhir.

Tahukah kita apa itu malam 10 terakhir? Ini adalah malam-malam paling istimewa dari seluruh hari-hari ramadhan. Inilah “babak finalnya” seluruh rangkaian ibadah selama ramadhan. Yang ketinggalan dari pergulatan malam-malam babak final ini, tentulah orang-orang yang merugi (kecuali yang memiliki udzur syar’i).

Adalah Baginda Rasulullah saw sangat mengistimewakan malam-malam 10 terakhir dari bulan ramadhan. Ibunda ‘Aisyah berkata, “Rasulullah saw bersungguh-sungguh (dalam beribadah) pada 10 terakhir ramadhan, yang Beliau tidak bersungguh-sungguh seperti itu di bulan yang lain”. (dalam HR Muslim). ‘Aisyah juga bercerita bahwa, “Baginda Rasulullah saw bila telah masuk 10 terakhir ramadhan, Beliau mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malam-malamnya dan membangunkan keluarganya”. (HR Ibnu Khuzaimah, sesuai syarat shahih Bukhari dan Muslim)

Bila Rasulullah saw memberikan perlakuan istimewa terhadap 10 terakhir ramadhan, meningkatkan intensitas/kualitas/kuantitas ibadahnya, bahkan sampai membangunkan keluarganya, pastilah itu menunjukkan secara jelas dan tegas bahwa 10 terakhir ramadhan sangat istimewa dan utama di sisi Allah.

Rasulullah saw merutinkan i’tikaf di 10 terakhir ramadhan, semenjak adanya syariat puasa ramadhan. Dan khusus di ramadhan terakhir hayatnya, Rasulullah melaksanakan i’tikaf selama 20 hari terakhir. Beliau kencangkan ikat pinggangnya dalam artian menggenjot diri untuk beribadah dan mengurangi pergaulan dengan dunia dan keluarga. Beliau hidupkan malam-malamnya dalam artian lebih banyak bangun di malam hari dari pada tidur. Beliau bangunkan seluruh keluarganya artinya Beliau upayakan keterlibatan maksimal anggota keluarganya dalam kebaikan dan kemuliaan.

Sahabat Rasulullah juga memberikan perlakuan khusus untuk malam-malam 10 terakhir ramadhan. Ubay bin Ka’ab yang biasa rutin mengimami shalat qiyam di Madinah di 20 malam pertama, bila 10 malam terakhir beliau i’tikaf dan mengkhususkan sendiri beribadah, tidak ingin banyak diganggu orang lain. Begitu juga Abu Bakrah, dia shalat qiyam ramadhan di 20 malam pertama sebagaimana qiyamnya di sepanjang tahun. Tapi bila masuk 10 malam terakhir, maka ia melipatgandakan qiyamnya dan bersungguh-sungguh. (terdapat dalam riwayat Tirmidzi dishahihkan oleh Albany)

Ketika Rasulullah beri’tikaf di 10 terakhir ramadhan, ‘Aisyah datang menghadap Rasulullah meminta izin untuk ikut juga i’tikaf. Rasulullah pun mengizinkan. Setelah itu Hafshah datang ke ‘Aisyah agar memintakan izin untuknya kepada Rasulullah. Beliau juga memberikan izin. Kemudian, Zainab binti Jahsy juga melakukan hal yang sama. Begitulah, semua istri Rasulullah saw juga ikut i’tikaf. (terdapat dalam HR bukhari)

10 malam terakhir ramadhan adalah babak final dari seluruh hari-hari ramadhan. Di malam-malam inilah Rasulullah saw memerintahkan para sahabat dan pengikutnya untuk memburu dan mendapatkan “lailatul qadr”. Malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barang siapa yang beribadah pada malam qadr tersebut, maka nilai ibadahnya lebih mulia dari ibadah yang sama selama 1000 bulan. Namun sebaliknya, barang siapa yang tidak mendapatkan lailatu qadr, maka dia telah diharamkan dari segala kebaikan. (terdapat dalam HR An Nasai, dishahihkan oleh Albany).
Kita mesti segera menyiapkan diri secara maksimal untuk memasuki dan mengisi 10 malam terakhir ini. Persiapan hati dan niat, pisik dan kesehatan, agenda dan kegiatan. Boleh saja kita agak kurang maksimal di malam-malam awal ramadhan. Tapi di 10 terakhir ini tidak ada pilihan, harus maksimal. Jangan sampai rela bila pencuri-pencuri licik dan lihai mengambil waktu-waktu mahal ini. Kalau kita berniat cuti kerja, inilah saat yang tepat untuk cuti.

Bila babak final ini sudah berlangsung, tapi kita masih sibuk dengan dunia, terikat dengan pekerjaan yang tidak berharga, tersandera oleh kegiatan-kegiatan tak bermakna, terpaku oleh lemahnya jiwa, maka siapkanlah diri untuk kerugian yang sangat nyata...

10 hari ketiga bulan ramadhan adalah itkum minannar




أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ


Sebentar lagi ramadhan meninggalkan kita, dan saat ini kita memasuki malam-malam dipeliharanya kita dari api neraka.

Di sepuluh malam terakhir ini kita disunahkan untuk melakukan itikaf di masjid.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Abu Daud dan Ibnu Majah bahwa Rasul SAW. beri’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan. Pada tahun terakhir berjumpa Ramadhan (sebelum wafat), Beliau i’tikaf selama 20 hari. Kebiasaan I’tikaf ini diteruskan oleh para Sahabat dan istri-istrinya setelah peninggalan Beliau.
Ibadah i’tikaf bertujuan mulia yaitu untuk menggapai malam lailatul qadar yang punya keutamaan ibadah yang dilakukan lebih baik daripada 1000 bulan. Di antara tujuan i’tikaf adalah untuk menggapai malam tersebut. Dan yang paling utama bila i’tikaf dilakukan di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Mudah-mudahan kita diberikan jalan untuk melakukan ibadah i’tikaf tersebut demi mencontoh sunnah Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Apa itu itikaf ?
yaitu berdiam diri dimasjid. Dimana didalam fikih untuk melakukan itikaf ada ketentuan/syaratnya,
a.    bahwa Masjid nya itu harus yang dipakai untuk sholat jum’at
b.    Masjid nya telah di waqafkan (bukan milik pribadi, maka tidak sah itikaf di masjid yg belum diwakafkan)


  • ·         Ketika akan ke masjid kita berdoa memohon perlindungan kepada Allah SWT
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْ
نِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
"Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazani wa a'udzubika minal 'ajzi wal kasali wa a'udzubika minal jubni wal bukhli wa a'udzubika min ghalabatiddaini wa qahrirrijali"
  "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas.
Aku berlindung kepada Engkau dari sifat pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia." (HR Abu Dawud 4/353) :

  • ·         Ketika akan memasuki masjid, ber doa memohon perlindungan dibukakan pintu Rahmat
اَللّهُمَّ افْتَحْ لِيْ اَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.
“Allahummaf-tahlii abwaaba rahmatika”.
Artinya :
 “Wahai Tuhanku, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu"
  • ·         Melangkah memasuki masjid dengan kaki kanan

Apa yang dilakukan ketika itikaf
1.     Muhasabah (menghisab diri sendiri/menghitung-hitung/introspeksi/merenung)
a.       Yaitu berintrospeksi  hablumminallah dan habluminannas
b.      Bagaimana hubungan kita selama ini kepada Allah SWT
c.       Bagaimana hubungan kita kepada kedua orang tua kita
d.      Bagaimana hubungan kita selama ini kepada Istri dan anak-anak
e.      Bagaimana hubungan kita selama ini kerabat, sahabat dan tetangga
f.        Menghisab diri akan apa-apa yang telah dan akan dilakukan
g.       Mempersiap diri (membawa bekal) bahwa kita akan menemui kematian
h.      Menghisab diri sendir sebelum dihisab di yaumil hisba nanti
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Hasyr [59]: 18).

Umar bin Khathab pernah berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang karena lebih mudah bagi kalian menghisab diri kalian hari ini daripada besok (hari kiamat). Dan bersiaplah untuk menghadapi pertemuan terbesar. Ketika itu, kalian diperlihatkan dan tidak ada sesuatu pun pada kalian yang tersembunyi.” (Az Zuhd, Ahmad bin Hambal, h. 177)
2.    Lakukan sholat tahiyatul masjid, setelah selesai lanjutkan
3.    Memperbanyak membaca Alqur’an
4.    Sholat sunah taubat 2-4 rakaat, dimana setelah membaca al fatehah rakaat 1-2 membaca QS Al Kafirun 11x Al Ikhlas 11x begitupun rakaat ke 3-4.
Kenapa QS Al kafirun :
Karena menunjukan iman kita kepada Allah sebagaimana sebab turunnya QS Al kafirun ketika nabi didatangi sekelompok orang2 yahudi dan nasrani, yang ingin berdamai dengan nabi bahwa mereka akan melakukan ibadah dihari jum’at tetapi dengan syarat agar nabi juga melakukan/mengikuti ibadah mereka di hari sabtu (yahudi) dan hari minggun (nasrani). Maka turunlah QS Al Kafirun.
Kenapa QS Al Ikhlas :
Bahwa membaca QS Al Ikhlas pahalanya seperti membaca 1/3 Al Qur’an dan jika membaca 3x maka seperti mengkhatamkan Al qur’an
Kenapa sholat taubat..?
karena kita tidak tahu umur kita, apakah kita masih dapat bertemu ramadhan tahun depan.

5.    Sholat hajat, setelah membaca Al fatehah membaca QS Asy Syarh (alam nasroh)  rakaat ke dua QS At Takaatsur
Kenapa alam nasroh :
Karena QS Asy Syarh bercerita tentang “Allah telah mengangkat segala beban dari pundak kita dan ketika datang kesulitan pasti Allah berikan kemudahan setelahnya”
Kenapa At Takaatsur
Karena QS At Takaatsur bercerita tentang manusia yang serakah menumpuk harta, yang semua itu akan dimintakan pertanggungan jawab.

6.    Setelah selesai semua, maka kita duduk dan berniat untuk beritikaf, maka tidak sah orang yang beritikaf tanpa niat.
نَوَيْتُ اَنْ اِعْتِكَفَ فِى هَذَا المَسْجِدِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
“saya berniat I’tikaf di dalam masjid ini, sunat karen Allah ta’ala
7.    Setelah niat maka kita diam tidak boleh bicara cukuplah kita takbir, tahlil, tahmid, dzikir dan amalan lainnya
o   Bagaimana kalau kita bicara.. maka itikafnya batal. Maka ulangi niat itikaf kita, kita keluar dari masjid lalu niat ulang ketika masuk kembali
o   Bahwa Pahala itikaf itu lebih baik dari dunia dan seisinya, karena
o   Ketika itikaf kita muhasabah (menghitung-hitung diri), apakah mati kita khusnul khotimah atau su’ul khotimah, Apakah Allah ridho akan hidup kita atau Allah murka..?Betapa banyak dosa kita dan tidak pandai bersyukur akan nikmat yang Allah berikan.. Fabiayyi ala irobikuma tukadziban.
Setelah selesai Shalat Hajat, dianjurkan memperbanyak istighfar
1.     membaca istighfar 100x, seperti kalimat istigfar yang biasa atau sebagai berikut:
Astagfirullaha rabbi min kulli dzanbin wa atuubu ilaiih.
Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Tuhanku, dari dosa-dosa, dan aku bertaubat kepada-Mu”
2.    Selesai membaca istighfar lalu membaca shalawat nabi 100x, yakni:
Allahuma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin shalaatarridhaa wardha ‘an ashaabihir ridhar ridhaa.
Artinya: “Ya Allah, beri karunia kesejahteraan atas jungjunan kami Muhammad, kesejahteraan yang diridhai, dan diridailah daripada sahabat-sahabat sekalian.”
3.     Membaca doa sbb :
"Allahumma anta robbii laa ilaaha illaa anta, kholaqtanii wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbii, faghfirlii fainnahuua laa yaghfirudz dzunuuba illa anta"

”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau,Engkau yang menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu dan akan menjalankannya dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang mengampuni segala dosa kecuali Engkau”

Laa ilaha illallohul haliimul kariimu subhaanallohi robbil ‘arsyil ‘azhiim. Alhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin. As `aluka muujibaari rohmatika wa ‘azaaima maghfirotika wal ghoniimata ming kulli birri wassalaamata ming kulli itsmin Laa tada’ lii dzamban illa ghofartahu walaa hamman illaa farojtahu walaa haajatan hiya laka ridhon illa qodhoitahaa yaa arhamar roohimiin.
Artinya: “Tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Lembut dan Maha Penyantun. Maha Suci Allah, Tuhan pemelihara Arsy yang Maha Agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Kepada-Mu-lah aku memohon sesuatu yang mewajibkan rahmat-Mu, dan sesuatu yang mendatangkan ampunan-Mu dan memperoleh keuntungan pada tiap-tiap dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa daripada diriku, melainkan Engkau ampuni dan tidak ada sesuatu kepentingan, melainkan Engkau beri jalan keluar, dan tidak pula sesuatu hajat yang mendapat kerelaan-Mu, melainkan Engkau kabulkan. Wahai Tuhan Yang Paling Pengasih dan Penyayang.”
4.    Setelah itu, mohonlah kepada Allah apa yang kita inginkan, insya Allah, Allah mengabulkannya. Amin.
5. memperbanyak doa "Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ ''Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku."
    Suatu ketika, Aisyah RA pernah bertanya kepada Nabi SAW, ”Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah (pintalah): Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ ''Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku." (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Mari diakhir ramadhan ini kita tingkatkan amal ibadah kita, karena betapa banyak orang yang melupakan Allah diakhir ramadhan, sibuk dengan mudik dan kegiatan dunia lainnya.
Semoga Allah ampuni dosa kita dan Allah terima segala ibadah kita, dijadikan ibadah tahun ini ibadah yang terbaik. Dan semoga Allah jadikan kita golongan yang “la allakum tattakun”

Wassalam




10 hari kedua bulan ramadhan adalah Ampunan Allah



أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

keutamaan 10 hari kedua Ramadhan seperti yang disebutkan didalam hadist Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dimana Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Awal bulan Ramadhan adalah Rahmah, pertengahannya Maghfirah (ampunan) dan akhirnya Itqun Minan Nar (pembebasan dari api neraka)”.


Suatu ketika Rasulullah saw berkumpul bersama sahabat2 di Mesjid dan mengajarkan Al-Qur'an. Rasulullah Saw kemudian berkata, "sebentar lagi akan dating  calon penghuni surga yg datang."
Para sahabat saling memandang, siapakah orang tersebut padahal diantara mereka ada sahabat2 utama nabi, Umar, Ustman, Abu Bakar, Ali dan para sahabat yang berperang bersama Rasulullah.  siapakah orang yang akan datang calon penghuni surga itu?

Tak lama berselang, masuklah seorang laki-laki, inikah org yg dimaksud Rasulullah?
Dia tak lebih dari lelaki kebanyakan.  Dia juga tidak termasuk dalam kelompok Sahabat Utama. Bukan dari golongan Quraisy dan tidak dikenal orang banyak. Bahkan keistimewaannya tidak pernah disebut-sebut orang banyak,

Para sahabat berpikir, mungkin bukan lelaki ini yg dimaksud Rasulullah.

Namun, tiga kali berturut-turut kejadian seperti ini berulang, setiap sebelum lelaki tsb datang, Rasulullah selalu menyatakan :"sebentar lagi akan datang calon penghuni surga yg datang."

Maka para sahabatpun bersepakat mengutus seseorang untuk bertamu nginap dirumah lelaki tsb dengan tujuan mengetahui amalan istimewa apakah yg telah dikerjakan lelaki tsb hingga Rasulullah mengatakan calon penghuni surga.

Utusan para sahabat kemudian bertamu dan minta izin kepada lelaki tsb, agar dapat bermalam di rumahnya hingga 3 hari. Tanpa banyak tanya, lelaki itu mempersilahkan dengan gembira.

Selama tinggal di rumah tsb, sang utusan mengamati aktivitas lelaki calon penghuni surga seperti yg dikatakan Rasulullah. Makan, biasa saja. AKtivitas lain juga biasa saja, tidak ada istimewa seperti orang kebanyakan. Sholat wajib ditambah sholat sunat sebelum dan sesudah sholat wajib. Kemudian membaca Al-Qur'an beberapa ayat dan tidur. Dalam aktivitas muslim, hal tsb biasa menurut utusan tsb.

Mungkin Sholat Tahajjud yg kuat, lalu utusan tsb bertekad untuk mengamati dimalam hari. Ternyata tidak juga, dia bangun ketika adzan Sholat subuh.

Hingga hari ke 3, utusan tsb belum temukan jawabannya, maka ia memberanikan diri bertanya terus terang:"wahai sahabat, terus terang saya diutus kemari untuk menyelidiki amalan2 istimewa apakah yg telah kamu lakukan, sehingga Rasulullah saw menyebut bahwa Engkau adalah calon penghuni Surga? Kami ingin mencontohnya."

Lelaki tsb menjawab dengan suara rendah, "wahai sahabat, seperti yg telah kamu lihat, aku ini hanya seorang muslim biasa dengan amalan biasa pula. Aku bukanlah org istimewa. " Kemudian dia berpikir sejenak dan melanjutkan, "tapi aku punya amalan kecil yg rutin tidak pernah aku tampakkan kepada org lain."

"Apakah itu wahai sahabat? Tolong sampaikan kepada kami aga dapat mencontohnya, pinta utusan tsb.

Dengan tatapan rendah dan suara yg gemetar, lelaki tsb berkata : " Alhamdulillah, setiap sebelum tidur aku senantiasa berusaha membersihkan hatiku. AKU senantiasa berdoa : Ya Allah Ampunilah segala dosaku dan dosa kaum muslimin dan muslimat dan orang yang telah menyakitiku pada hari ini baik sengaja maupun tidak. Ya Allah apabila ia Non Muslim jayakanlah dunianya sehatkanlah anak istri dan keluarga, dan apabila ia orang mukmin, berikan lah surge yang terbaik dari sisimu”.
KUBUANG SEMUA PERASAAN IRI, DENGKI, DENDAM DAN PRASANGKA BURUK TERHADAP SAUDARAKU SESAMA MUSLIM. AKU BERUSAHA TIDUR DENGAN HATI BERSIH, BENING DAN IKHLAS SERTA BERTAWAKKAL KEPADA TUHANKU."
Sejenak lelaki tsb mengusap air matanya, kemudian melanjutkan :"Jika amalan kecil ini memang punya nilai, Subhanallah Wal-Hamdulillah."
Mendengar uraian lelaki tsb, sang utusan berseri-seri : "Terima kasih sahabat atas hikmah yg telah berikan. Saya akan memberitahukan amalan ini kepada para sahabat-sahabat lainnya. Utusan itupun pamit pulang dengan membawa pelajaran berharga.

Mari di sepuluh malam kedua ini kita perbanyak Istighar dan kita bersihkan hati kita dari sifat iri, dengki, dendam, berprasangka buruk dan sombong.
Semoga diakhir ramadhan kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang seperti bayi yang baru dilahirkan. Amin amin amin Ya Rabbal Alamin.

Wassalam